Uncategorized

Waruga Sawangan

Waruga Sawangan

Salah satu situs peninggalan sejarah yang telah berubah menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Provinsi Sulawesi Utara adalah Waruga Sawangan. Jika masyarakat di tanah Toraja Sulawesi Selatan memiliki tradisi khas mengubur mayat di dalam tebing batu, masyarakat suku Minahasa, Sulawesi Utara juga memiliki tradisi yang khas dalam pemakaman. Wisata ini, berada di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.Bagi masyarakat Minahasa tempo dulu kematian dimaknai seperti ular berganti kulit, yaitu berubah dari kehidupan nyata untuk masuk ke dalam alam roh. Untuk membantu proses perubahan itu, seseorang yang telah meninggal akan dibuatkan rumah berupa peti kubur batu berukuran 2×2 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Masyarakat Minahasa menyebutnya dengan Waruga.

Waruga adalah kubur batu yang mempunyai bentuk kubus, dengan atap berbentuk segitiga yang menyerupai bubungan atap rumah saat ini. Pada bagian atap, banyak terdapat hiasan pahatan berupa manusia, hewan, atau tumbuhan. Hiasan pahatan menggambarkan berapa jenazah yang tersimpan di dalam waruga, sekaligus menggambarkan mata pencarian orang tersebut semasa hidup. Sedangkan pada bagian bawah yang berbentuk kubus, merupakan ruangan untuk tempat meletakkan jenazah. Orang yang telah meninggal dunia, diletakkan dengan posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Persis seperti posisi seorang bayi pada saat berada di dalam kandungan. Hal ini berkaitan dengan keyakinan masyarakat Minahasa bahwa orang yang sudah meninggal akan kembali ke posisi dimana saat dia di dalam kandungan, yaitu dalam posisi jongkok.

baca juga : Taman Laut Tumbak

Penutup dengan motif wanita beranak menunjukkan yang dikubur adalah dukun beranak, gambar binatang menunjukkan yang dikubur dalam Waruga adalah pemburu. Penutup yang diukir gambar beberapa orang menunjukkan yang dikubur adalah satu keluarga. Jumlah orang yang dikubur dalam Waruga ditandai dengan ukiran berupa garis di samping penutup Waruga. Sementara cungkup atau penutup yang polos kemungkinan merupakan Waruga tertua saat itu belum ada kebiasaan mengukir atau memahat penutup Waruga.

Banyak objek wisata situs purbakala kubur batu Waruga yang dapat anda temui di minahasa antara lain di daerah Airmadidi, Rap-Rap, serta Sawangan namun wisatawan lebih mengenal desa sawangan. anda bisa melihat Waruga dalam jumlah yang banyak dengan berbagai bentuk yang sudah terkumpul disebuah lokasi yang berada disekitar pemukiman warga. Di Taman Purbakala Waruga Sawangan ada 144 Waruga yang bisa ditemui. Konon ketika jasad dimasukkan dalam Waruga akan disertakan pula benda-beda berharga seperti piring keramik, gelang dan benda tajam (pisau).

baca juga : Pulau Lihaga

Menurut catatan sejarah, Waruga mulai digunakan oleh orang Minahasa pada abad ke IX. Namun sekitar tahun 1860, kebiasaan mengubur dalam Waruga mulai dilarang oleh Belanda. Kemudian pada tahun1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti Waruga . Meski merupakan komplek pemakaman, Taman Kubur Batu Waruga jauh dari kesan menyeramkan. Suasana alam yang indah dan berpadu dengan udara yang sejuk, membuat siapapun justru betah berlama-lama di sini. Mengunjungi Taman Kubur Batu Waruga, terasa seperti menyusuri lorong waktu untuk mengenal lebih dekat dengan kebudayaan Minahasa.

Tak jauh dari komplek Waruga, berdiri pula rumah adat Minahasa yang berfungsi sebagai museum. Didalam museum, anda bisa melihat berbagai peninggalan zaman dahulu kala mulai dari alat makan, perhiasan, berbagai perabotan, hingga alat perang. Tak ada tarif khusus untuk masuk ke kawasan ini. Pengunjung hanya disodorkan buku tamu, kemudian menuliskan nominal partisipasi untuk operasional. Menurut juru kunci, Anton Jatuna, uang-uang yang terkumpul kemudian akan diberikan pada pemerintah. Untuk menuju ke Waruga Sawangan tidaklah begitu sulit. Dari Kota Manado anda hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Desa Sawangan.