Uncategorized

Toko Oen Malang

Toko Oen Malang

Toko Oen sebenarnya merupakan sebuah kafe resto yang menjadi salah satu ikon di Kota Malang dan wajib Anda kunjungi ketika bertandang di Kota Malang. Toko Oen menjadi salah satu tempat favorit wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Malang. Di sini Anda bisa berlibur sambil menikmati suasana tempo dulu peninggalan Belanda. Bahkan, sejumlah agen perjalanan di luar negeri, seperti Belanda, memasukkan nama Toko Oen sebagai salah satu tujuan tur wisata.

Dulu, pada zaman Belanda masih ada di Kota Malang, Toko Oen menjadi salah satu tempat berkumpul orang Belanda setiap akhir pekan. Toko Oen berada di kawasan alun-alun Kota Malang, tepatnya terletak di Jalan Basuki Rahmat No 5. Di Toko Oen menyajikan menu masakan Indo-Holand dengan nuansa tempo dulu yang hingga kini masih dipertahankan ornamen dan dekorasinya sejak berdiri sekitar tahun 1930. Arsitektur khas Belanda dengan nilai sejarah yang tinggi membuat Toko Oen menjadi bangunan cagar budaya.

baca juga : Taman Budaya Raden Saleh

Toko Oen memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perjalanannya. Pada 1920-an merupakan sebuah Warenhuis (toko serba ada) Weissberg milik orang Amerika. Pada 1930 pemiliknya berganti kepada seorang Tionghoa peranakan Belanda yang bernama Liem Gien Nio yang mendirikan Toko Oen. Menariknya pada alamat dan nomor telepon yang sama sebelum berdirinya Toko Oen terdapat Toko Liberty Magazijn yang menjual pakaian jadi.

Toko Oen berawal dari toko roti yang pertama dibuka oleh Liem Gien Nio di Jogjakarta pada tahun 1912. Sebutan Oen diambil dari nama sang suami, yaitu Oen Tjok Hok, lalu pada 1922 berkembang menjadi kafe es krim dan restoran. Setelah terkenal dan banyak pelanggan yang menyukai menunya, Toko Oen membuka cabang di beberapa kota seperti Semarang, Jakarta, dan Malang. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, Toko Oen di Jogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup, hanya tinggal toko di Malang dan Semarang saja yang masih buka. Pada perkembangan selanjutnya, Toko Oen di Kota Malang dijual kepada seorang pengusaha yang bernama Dany Mugiato.

baca juga : Mercusuar Pelabuhan Tanjung Emas

Bahkan Presiden Indonesia pertama, Soekarno, pernah mengunjungi Toko Oen ini saat berkunjung ke Malang. Pada tanggal 25 Februari 1947, para peserta Kongres Komite Nasional Indonesia Pusat di Malang menjadikan tempat ini untuk melepas lelah. Selain menikmati makan dan minum, para peserta itu juga melakukan pembahasan berbagai strategi dalam kongres. Bangunan restoran ini juga salah satu yang selamat dari aksi bumi hangus di Malang pada 31 Juli 1947. Dini hari sekitar pukul 03.00 pasukan Belanda yang mencoba menduduki kembali Indonesia melakukan serangan besar sehingga akhirnya Malang menjadi kota pendudukan Belanda.

Awalnya, Toko Oen bernama Toko Oen Ice Cream Palace Patissier, sesuai papan nama yang terpampang pada tembok depan toko tersebut. Saat berada di dalam, ada tulisan besar di dinding “Welkom in Malang, Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De, Gasten Gazelligheid Geeft.” Spanduk dalam Bahasa Belanda ini memiliki arti “Selamat Datang di Malang, Toko Oen sejak tahun 1930 telah memberikan suasana nyaman”. Toko Oen sebenarnya tak ubahnya restoran lainnya. Suasana interiornya masih mempertahankan kekunoanya. Suasana di dalam toko pun seolah tidak berubah sejak pertama berdiri pada 1930.

Sebuah ruangan dengan gaya arsitektur bangunan Belanda yang khas dengan langit-langit bangunan yang cukup tinggi, pilar-pilar bangunan cat berwarna putih yang mendominasi, pintu serta jendela kaca dengan bentuk yang lebar. Bangunan dengan konsep seperti ini memudahkan pergerakan surkulasi udara ke dalam ruangan serta masuknya cahaya dari luar sehingga menjadikan suasana di dalam ruangan cukup sejuk dan memiliki pencahayaan yang cukup.

Deretan kursi rotan dengan sandaran rendah yang terbuat dari besi melengkung ditata rapi mengelilingi meja bundar dengan taplak bercorak kotak-kotak merah putih mendominasi ruangan. Kusen jendela dan pintu berbahan kayu jati sebagian besar masih asli dengan warna kuning krem menambah kesan lawas toko itu. Sementara itu, beberapa aksesori kuno tampak menghiasi ruangan seperti piano, radio, dan foto-foto suasana Malang tempo dulu, bertebaran di seluruh sudut ruangan. Dekat pintu masuk tertata sejumlah toples kaca bulat ukuran besar berisikan aneka kue kering seperti cokelat, almond, dan kastengel.

Berjajar di dekatnya aneka jajanan Malang di antaranya keripik apel, bakpia, keripik tempe, dan sebuah kotak kaca berisi pai apel dan roti croissant hangat menggugah selera. Tidak hanya itu, resto ini memang berusaha mempertahankan keasrian masa lalu dengan tidak memasang mesin pendingin udara. Bahkan, untuk kamar kecil, ruangan bagi pengunjung pria dan wanita masih menjadi satu, hanya di dalam mereka dipisahkan, bagi pria disekat dengan pintu dua arah ala zaman koboi di bar-bar Amerika dengan ruangan toilet kecil bagi wanita yang lebih tertutup.

Sejumlah keunikan inilah yang membuat Toko Oen selalu ramai dikunjungi, baik oleh warga Malang maupun para wisatawan lokal dan asing. Wisatawan asing yang datang kebanyakan berasal dari Belanda karena pada masa itu Toko Oen menjadi tempat favorit berkumpulnya orang-orang Belanda dan Eropa di Malang. Selain untuk bernostalgia mengenang masa-masa lalu saat mereka masih tinggal di Malang atau hanya sekedar menikmati berbagai kuliner dan suasana kuno di restoran ini. Di tempat ini, pengunjung bisa merasakan nikmatnya makanan khas Eropa, China, ataupun Indonesia, seperti steak, salad, dan nasi goreng. Tidak heran jika pada siang hari, warga ataupun turis asing makan siang di tempat ini. Toko Oen pada akhirnya bukan sekadar tempat wisata ataupun restoran belaka. Tempat ini menyimpan sejarah panjang mengenai kehidupan warga Belanda di Kota Malang.

Dari segala menu yang disediakan, menu es krim menjadi favorit di tempat ini. Es krim di Toko Oen memiliki 27 resep pilihan dan semuanya buatan sendiri, tanpa menggunakan bahan pengawet di dalam proses pembuatannya. Es krim Toko Oen memang dibuat dengan resep rahasia turun-temurun yang telah dijaga selama puluhan tahun. Seluruh es krim dibuat dari bahan dasar berupa susu segar tanpa pengawet. Rasa es krim Toko Oen jauh dari es krim sejenis yang banyak ditemukan di supermarket atau bahkan gerai dan kafe di mal kota-kota besar. Teksturnya sangat lembut, langsung cair di mulut tanpa ada rasa bagian yang keras akibat bunga es. Paduan rasa manis dan gurih susu sapinya sungguh pas dan tidak enek, membuat yang mencoba ingin selalu tambah lagi.

Di antara menu-menu es krim Toko Oen adalah Basic (single scoop) dengan rasa vanila, stroberi, cokelat, moka, dan gula jawa durian. Pada deretan menu old favorites ada tutti frutti, peach melba, banana split, domino dan sonny boy. Sementara itu, untuk jenis fancy sundaes, pengunjung bisa mencoba tropicana cream, midwest sundae, calypso fantasy, oen special, dan chocolate parfait. Selain itu, tersedia juga es krim soda dan milk shakes dengan pilihan rasa vanila, moka, cokelat dan stroberi.

Harga satu porsi es krim Toko Oen tidak jauh berbeda, bahkan lebih murah dari yang kita temui di coffee shop di mal-mal, mulai dari 15 ribu sampai 40 ribu rupiah. Selain itu, pengunjung juga banyak yang memesan es tradisional seperti es sirup telasih, es kolang-kaling, es avokad moka, dan es campur. Kebanyakan yang memesan adalah turis asing.

Sedangkan untuk snack gurih dengan resep asli Belanda, pengunjung bisa mencoba seperti vleeskroetje met mosterd (kroket dengan saus mustard), risolles met mosterd (risoles dengan saus mustard), loempia (lumpia), atau kippenbrood met mosterd (pastry ayam dengan saus mustard) dan kentang goreng. Lichte snacks (snak ringan) ini harganya berkisar mulai 10 ribu rupiah sampai 30 ribu rupiah.

Bagi yang ingin menghangatkan tubuh di tengah suasana Malang yang dingin, juga bisa mencoba aneka soep (sup) seperti sspergosep met krab (sup asparagus kepiting), kippensoep (sup ayam), dan champignonnesep (sup jamur), dengan kisaran harga 25 ribu rupiah sampai 35 ribu rupiah.

Menu berat yang menjadi favorit pengunjung di Toko Oen adalah oxtongue steak (steak lidah) berlumur saus manis nan gurih. Selain itu, kita juga bisa mencoba steak lain seperti wienerscgnitzel (steak daging lapis), galantine steak (steak hamburger asap), dan beef tenderloin dan kippenstuk (stik ayam). Bagi yang sering berkunjung ke restoran terkenal, steak Toko Oen cukup terjangkau dengan kisaran harga mulai 50 ribu sampai 60 ribu rupiah.

Sementara itu, pengunjung yang merasa harus makan nasi bisa memesan aneka menu lokal yang tidak kalah lezatnya. Sebut saja nasi campur, nasi sop buntut, atau aneka menu oriental seperti capcay goreng dan kuah, kepiting dadar saus tomat, kakap goreng saus manis asam, dan nasi goreng Hong Kong.

Selain menyajikan nuansa tempo dulu yang kental baik dari segi interior maupun eksteriornya, toko ini juga menyimpan keunikan tersendiri yang semakin melengkapi nuansa Kolonial Belanda yang disajikan. Kita dapat melihat dari tampilan pelayan yang berjaga di toko ini. Pelayan laki-laki biasanya menggunakan baju dan celana safari putih dengan peci di kepala, sedangkan pelayan perempuan mengenakan gaun putih selutut. Pakaian model tersebut merupakan pakaian yang tren pada era tahun 1930-an.

Satu lagi keunikan pelayanan di Toko Oen ini adalah beberapa pelayan ternyata cukup fasih berbahasa Belanda, sehingga tak heran banyak tamu dari turis asing yang sebagian besar berasal dari negeri Belanda yang berkunjung ke tempat ini untuk sekedar bernostalgia mengenang masa lalu mereka. Suasana khas Toko Oen ini barangkali tidak kita temukan di restoran es krim lainnya. Toko Oen Malang buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 21.30 WIB.