Uncategorized

Rumah Tradisional Desa Wana

Rumah Tradisional Desa Wana

Desa Wana merupakan satu desa tradisional yang terletak di Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur. Desa Wana merupakan satu dari tujuh (7) desa inti masyarakat Lampung Melinting, sekaligus merupakan salah satu dari enam (6) Desa Pewaris Kebudayaan Asli Keratuan Melinting.

Hampir separuh dari rumah penduduk di Desa Wana masih menggunakan arsitektur tradisional rumah adat Lampung, yakni rumah panggung dengan bahan kayu. Berjarak sekitar 70 km dari Kota Bandar Lampung, Desa Wana yang merupakan Desa Tradisional di Lampung Timur ini dapat dicapai dalam tempo 3 jam perjalanan jika melalui jalur Panjang – Sribhawono.

Sebagian masyarakat Desa Wana ini juga masih menggunakan beberapa alat tradisional untuk kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah mereka masih memasak menggunakan tungku kayu. Desa Wana memiliki luas wilayah sebesar 1.021 ha, dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 jiwa dari sekitar  2.400 Kepala Keluarga, dengan mayoritas profesi penduduknya adalah Petani dan Buruh Tani. Komposisi penduduk berjenis kelamin laki-laki dan perempuan di Desa Wana hampir berimbang. Uniknya meskipun merupakan Desa Adat Lampung, sekitar separuh penduduk Desa Wana berasal dari suku lain, seperti Suku Jawa, Padang, Bali, dan Batak.

baca juga : Slanik Waterpark

Selain mempertahankan arsitektur rumah adat Lampung yang dikenal dengan sebutan Nuwo Panggung, masyarakat Desa Wana masih melakukan beberapa upacara adat khas Lampung Timur, diantaranya Upacara Pernikahan, dan Pertemuan Adat. Dalam Upacara Pernikahan, Tari Melinting yang dilakukan oleh para penari selalu ditampilkan.

Tari Melinting merupakan tarian menyambut tamu, tarian adat Lampung Timur yang sudah terkenal, bahkan hingga ke mancanegara. Tari Melinting biasanya digelar dengan iringan alat musik tradisional seperti gamelan. Demikian sekilas gambaran tentang upaya melestarikan adat Lampung di Desa Wana.

Sejarah tari melinting konon berawal pada abad ke-16, yaitu pada masa silsilah kedua Keratuan Melinting Pangeran Panembahan Mas. Pada masa itu pengaruh Islam mulai mendominasi tata cara tarian, termasuk mempengaruhi tari melinting. Tarian ini terdapat di daerah Kecamatan Labuhan Maringgai, Desa Meringgai dan Wana, yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Timur.

baca juga : Pulau Pahawang

Fungsi tari melinting sudah banyak berubah, tidak seperti pertama kali diciptakan oleh Ratu Melinting. Ia memaparkan, tari melinting sebelum mengalami perkembangan penyempurnaan adalah mutlak sebagai tarian keluarga Ratu Melinting yang dipergelarkan hanya pada saat acara gawi adat Keagungan Keratuan Melinting. Para penarinya hanya terbatas dimainkan putera dan puteri Ratu Melinting sendiri. Pagelarannya dilakukan di Sesat atau Balai Adat.

Tari melinting yang dikembangkan kembali sejak 1958, tidak lagi merujuk sepenuhnya pada bentuk aslinya, baik gerak, busana, dan aksesoris. Telah terjadi modifikasi di sana-sini. Dari segi fungsi pun, persembahan tari melinting telah bergeser dari peragaan sakral menjadi tarian hiburan lepas atau paling tidak menjadi persembahan pada tamu agung yang berkunjung ke Lampung.

Sejak mengalami pergeseran fungsi, busana tari yang dipakai pun berubah agak jauh dari bentuk dan warna aslinya. Dulu penari melinting putra memakai kopiah emas melinting, baju dan jung sarat yang diselempangkan, baju teluk belanga, kain tuppal disarungkan, kipas warna merah, bulu seretei, sesapur handak putih, bunga pandan, dan celana panjang putih. Sekarang, penari putra memakai kopiah emas pepadun, baju teluk belanga, kain tapis, kipas warna bebas, dan bulu seretei. Untuk busana dan aksesoris penari putri, tari melinting lama menggunakan siger melinting cadar warna merah/putih, kebaya putih tanpa lengan, tapis melinting, rambut cemara panjang, kipas warna putih, gelang ruwi dan gelang kano. Sekarang pakaian dan aksesori itu diganti dengan siger melinting cakar kuningan, kebaya putih lengan panjang, tapis pepadun, rambut disanggul, kipas warna bebas, gelang rawi dan buah jukum.

Gerakan yang dipakai dalam tari melinting dibedakan antara gerakan penari putera dan gerakan penari puteri. Gerakan penari putera meliputi babar kipas, jung sumbah, sukkung sekapan, balik palau, kenui melayang, nyiduk, salaman, suali, niti batang, lutcat kijang, dan lapah ayun. Sedangkan gerakan untuk penari puteri terdiri dari gerakan babar kipas, jung sumbah, sukung sekapan, timbangan atau terpipih mabel, melayang, ngiyan bias, nginjak lado, nginjak tahi manuk dan lapah ayun.