Uncategorized

Pulau Kembang

Pulau Kembang

Pulau Kembang adalah sebuah daratan atau delta di tengah sungai Barito. Disebut Pulau, karena luasnya yang lumayan besar dan di atasnya terdapat sebuah hutan wisata seluas lebih dari 50 hektar yang bisa dijadikan salah satu tujuan wisata.

Di Pulau Kembang, pengunjung bisa menjumpai banyak monyet dan berbagai jenis burung. Salah satu monyet yang bisa kita temui di Pulau ini adalah Bekantan. Agak susah menemuinya karena bekantan sangat pemalu. Hidung bekantan panjang, tidak seperti monyet lain pada umumnya.

Salah satu kekhasan Pulau Kembang adalah adanya kuil yang ada di dalam hutan wisata. Kuil ini bentuknya mirip dengan pendopo, dan digunakan sebagai tempat untuk berdoa bagi beberapa warga Tionghoa di sekitar Banjarmasin.

baca juga : Rumah Jomblo

Ikhwal pemberian nama Pulau Kembang sendiri berasal dari kebiasaan warga setempat yang membawa bunga-bunga sebagai sesaji menuju Pulau ini.

Monyet-monyet yang jumlahnya ratusan di Pulau Kembang adalah monyet yang jinak, karena mereka terbiasa diberi makan oleh pengunjung yang datang berupa kacang. Kacang itu bisa dibeli di tempat wisata, dan banyak penjual yang menyediakannya.

Di dalam pulau kembang juga tersedia kamar mandi dan juga warung yang jual makanan-makanan ringan dan minuman. Namun jangan sesekali memperlihatkan makanan atau minuman secara terbuka. Ada resiko akan direbut oleh kera-kera di sana.

baca juga : Gua Pawon dan Stone Garden

Pulau Kembang di sebut sebagai kerajaan kera. Terdapat ratusan bahkan ribuan kera di sini. Konon menurut mitos orang setempat terdapat kera yang sangat besar yang di sebut raja dari para kera. Namun tidak hanya kera, kalau sedang beruntung pengunjung bisa bertemu dengan Bekantan. Bekantan adalah Kera endemik Kalimantan ber ekor panjang yang mempunyai hidung yang mancung dengan warna kekuningan.

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimanakah kera yang begitu banyaknya ini bisa tinggal di pulau yang terbuat oleh alam yang tidak terhubung oleh daratan ini. Dalam cerita rakyat setempat, di ceritakan ada salah satu dari keturunan raja di Kuin tidak di karuniai keturunan.

Menurut ramalan ahli nujum pada saat itu jika ingin memiliki anak maka harus berkunjung ke Pulau Kembang dengan mengadakan upacara badudus (mandi-mandi). Setelah beberapa waktu sepulang mengadakan upacara di Pulau ini ternyata istri dari keturunan raja yang dimaksud hamil.

Begitu bahagianya keluarga raja mendengar hal gembira tersebut. Maka raja yang berkuasa memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang merusak dan mengganggunya.

Petugas kerajaan yang mendapatkan perintah menjaga Pulau Kembang itu membawa dua ekor kera besar, jantan dan betina yang diberi nama si Anggur. Konon menurut cerita yang beredar setelah sekian kera yang ditinggalkan berkembang biak dan menjadi penghuni Pulau Kembang.

Untuk mengelilingi pulau kembang, pengunjung di sediakan jembatan. Hal ini karena tanah disana sebagian rawa jadi tidak bisa di lewati. Setelah masuk ke dalam akan di sambut oleh 2 buah patung kera putih (hanoman) dan kuil kecil yang di pakai untuk tempat ziarah bagi etnis Tionghoa.

Di dalam pulau kembang juga tersedia kamar mandi dan juga warung yang jual makanan-makanan ringan dan minuman. Namun pengunjung disarankan tidak memperlihatkan makanan atau minuman. Kawatir akan di rebut sama kera-kera di sana.

Di dalam area pulau kembang ada sebuah pondokan berdinding hijau-kuning di sebelah kanan altar utama. Di pintu masuk, terpampang papan bertuliskan: “Tempat ziarah, doa selamat, mandi anak, tepung tawar.

Di dalam pondokan, dua bak air ukuran besar berisi untaian bunga terletak di pojok pintu masuk. Ada penjaga berupa pria dan dua ibu-ibu. Mereka biasanya bergegas menawari mandi bunga pada pengunjung. Bayarnya seiklasnya saja, tidak ada tarif resmi.

Banyak peziarah dan pelancong yang datang ke pondokannya. Mereka meminta restu atas suatu niat dan bernazar. Kelak bila niatan itu terkabul, peziarah tadi akan kembali ke Pulau Kembang dengan membawa aneka sesaji seperti gula merah, ketan, telur, dan kelapa. Ketan dan telur ini diberikan kepada para kera.

Ada kepercayaan, kera-kera itu membawa keberuntungan karena memuluskan segala niatan. Konon daratan Pulau Kembang bermula dari tenggelamnya kapal Inggris yang mengangkut etnis Cina ketika hendak menaklukkan Kerajaan Kuin Selatan.

Banyak penumpang kapal tewas bersamaan dengan tenggelamnya kapal. Lama-lama lokasi tempat tenggelamnya kapal ditumbuhi aneka biji-bijian dan penumpukan kayu. Biji-bijian ini kemudian berkembang biak menjadi pepohonan dan daratan pulau.

Yakin atas peristiwa itu, mendorong etnis Cina keluarga korban melakoni ziarah kubur untuk mengenang jenazah yang tak diketahui rimbanya. Mereka pun membawa aneka untaian bunga dan memanjatkan doa di pulau tersebut.

Kebiasaan berziarah dan berdoa sambil membawa bunga itu akhirnya membawa pada penamaan Pulau Kembang.