Uncategorized

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung adalah landmark Kota Banjarmasin. Bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, terasa belum lengkap apabila tidak ke Pasar Terapung. Ya itulah Pasar Terapung di Muara Kuin, Banjarmasin. Umumnya dikenal dengan nama Pasar Terapung Muara Kuin atau Pasar Terapung Sungai Barito. Dalam tinjauan geografis, Pasar Terapung berkategori Pasar Tradisional. Lokasinya di Sungai Barito di kawasan muara sungai Kuin, Banjarmasin.

Yang membuat unik yaitu para pedagang maupun pembeli menggunakan alat transportasi jukung. Jukung adalah sebutan perahu dalam Bahasa Banjar. Pasar ini mulai “menggeliat” usai shalat Subuh sampai pasca pukul tujuh pagi. Eksotisme terasa ketika matahari terbit di ufuk timur. Memantulkan spektrum cahaya diantara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak sungainya.

Bagi warga Banjarmasin, tentunya keberadaan Pasar Terapung di Kuin sudah bukan barang baru. Hampir tiap hari akan melewati wilayah ini apabila berkunjung atau sekadar mampir ke wilayah Kuin. Kalau berangkat dini hari, pasti bisa melihat aktivitas Pasar Terapung yang eksotis, bertransaksi di atas perahu.

baca juga : Pulau Kaget

Dari sudut pandang historis atau kesejarahan, pasar terapung (floating markets) Kuin di Banjarmasin sudah ada sejak 480 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung atau yang dalam Bahasa Belanda dikenal dengan drijvende markt,sudah ada tepatnya pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera).

Pasar Terapung ini terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi Sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Sementara Pasar Terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, baru ada belakangan. Ketika perpindahan Keraton Banjar ke kawasan Kayutangi Martapura sejak awal abad ke-17. Tepatnya sekitar tahun 1612 M.

Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa Pasar Terapung di Muara Kuin Kota Banjarmasin adalah peninggalan dari aktivitas perdagangan bandar niaga Kesultanan Banjar pertama. Oleh karena itu kawasan Pasar Terapung pada periode awal dituliskan sebagai Bandar niaga Bandar Masih, Muara Kuin, Banjarmasin. Pasar Terapung yang embrionya muncul sejak abad ke-16 adalah tempat para pedagang Banjar zaman dahulu.

Mereka melakukan jual beli dengan pedagang dari Jawa, Melayu, Aceh, Gujarat, Arab dan China serta pedagang lainnya. Dalam perkembangannya hingga empat ratusa delapan puluhan tahun, akhirnya tersisa para pedagang Pasar Terapung Muara Kuin Banjarmasin yang berdagang di saat dini dan pagi hari.

baca juga : Pulau Kembang

Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh pedagang di Pasar Terapung yang diperkirakan kosakata di masa Kerajaan Banjar pertama Abad ke-16. Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh. Kemudian pedagang eceran atau tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali, disebut panyambangan. Selain itu, terdapat keistemewaan pasar ini yakni sering terjadi transaksi barter (tukar menukar barang) antar para pedagang berperahu. Dalam Bahasa Banjar biasanya diistilahkan dengan bapanduk.

Menurut Idwar Saleh (1981/1982),  Pasar Terapung Kuin berkembang seiring dengan dibangunnya Istana Kesultanan Banjar di Kuin tahun 1524-1530 an. Istana/keraton di Banjarmasin ini didirikan Sultan Suriansyah. Pada posisinya, Banjarmasih terletak di antara Sungai Barito dengan anak Sungai Sigaling, Sungai Pandai dan Sungai Kuin.

Sungai Kuin dengan anak-anak Sungai Karamat, Jagabaya dan Sungai Pangeran. Sungai-sungai Sigaling, Keramat, Pangeran (Pageran), Jagabaya dan Sungai Pandai ini pada hulunya di darat bertemu, dan membentuk sebuah danau kecil bersimpang lima. Daerah inilah yang menjadi ibukota Kesultanan Banjar pertama.

Pada wilayah sebelah sungai Keramat dibuat Paseban, Pagungan dan Situluhur. Kemudian,, terdapat sebutan Siti Hinggil yang digunakan menyebut tempat di Keraton Banjar maupun di wilayah Banten. Mendekati Sungai Barito dengan Muara Cerucuk, terdapat rumah Syahbandar Goja Babouw, seorang Gujarat (India) bergelar Ratna Diraja. Kemudian di seberang Sungai Jagabaya dibangun masjid pertama, yang sekarang dikenal dengan Masjid Sultan Suriansyah.

Nah, pada tempat dekat pertemuan sungai Karamat dengan Sungai Sigaling, terdapat pasar di atas tebing.Disamping pasar lain yang umum saat itu di atas air. Jadi ada dua pasar sebenarnya, yang ada pada masa Sultan Suriansyah, abad ke-16. Pasar di darat dan pasar di atas air. Khusus pasar di atas air, merupakan ciri-khas dari perdagangan orang Banjar saat itu, sebagaimana juga rumah di atas air (lanting). Pasar di atas air inilah yang menjadi cikal bakal Pasar Terapung di Kuin dan berkembang sampai sekarang.