Uncategorized

Museum Asi Mbojo

Museum Asi Mbojo

Bima adalah salah satu kota di Pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari Provinsi NTB. Untuk menjangkau kota ini dari Mataram dapat ditempuh melalui jalur darat atau jalur udara. Jika ditempuh melalui perjalanan darat, dari Mataram harus melakukan perjalanan darat lebih dulu ke pelabuhan penyeberangan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur. Waktu tempuh antara Kota Mataram-Lombok Timur berkisar 1,5 -2 jam.

Perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menyeberang ke Poto Tano di Kabupaten Sumbawa dengan waktu tempuh antara 1,5 – 2 jam. Setelah tiba di pelabuhan penyeberangan di Pulau Sumbawa itu, perjalanan ke Bima masih harus menempuh jarak sekitar 350 kilometer lagi. Meski jalannya beraspal, tapi untuk menempuh jarak sejauh itu perlu konsentrasi tinggi, sebab jalan yang ditempuh berkelok-kelok, naik turun menyusuri bukit dan jurang di sisi jalan yang curam.

baca juga : Museum Negeri Bengkulu

Namun, jika ingin perjalanan lebih singkat, dari Bandara Selaparang di Mataram,  bisa langsung naik pesawat menuju jurusan Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima. Waktu tempuh sekitar 30 menit. Harga tiket pesawat Mataram-Bima cukup terjangkau karena selama ini masih disubsidi oleh pemerintah daerah setempat. Jika ditempuh melalui perjalanan darat, beberapa kilometer sebelum memasuki kota Bima, tepatnya memasuki wilayah Kecamatan Bolo, di sepanjang kiri jalan mulai terlihat hamparan tambak garam. Ratusan bahkan mungkin ribuan hektar tambak garam terpetak-petak.

Di Bima terdapat gedung bersejarah yaitu Museum Asi Mbojo. Luas, kokoh dan kuno. Itulah kesan yang tertangkap dari gedung Museum Asi Mbojo yang terletak di jantung Kota Bima. Bangunan tersebut dahulu merupakan istana kasultanan Bima, kini berfungsi sebagai museum. Museum Asi Mbojo bukan hanya saksi sejarah Bima, lebih dari itu ia menyimpan cerita panjang temali benang merah peradaban masyarakat Bima dari masa kesultanan Bima hingga kini. Arsitektur bangunan Museum Asi Mbojo merupakan perpaduan khas Bima dan Belanda. Bangunan kokoh dan menjulang itu terdiri dua lantai dan menempati areal tidak kurang dari lima are. Asi Mbojo berarti Istana Bima. Istana itu dibangun pada 1927 dan resmi menjadi istana kasultanan Bima pada 1929. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang di sisi barat dan timur.

baca juga : Pantai Jakat

Tata letak Asi Mbojo tidak jauh berbeda dengan istana lain di Tanah Air. Istana menghadap ke barat dan di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun bernama Serasuba.  Di tempat itulah konon raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. Di  sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan. Istana, alun-alun dan masjid yang merupakan konsepsi filosofi pemerintah, rakyat dan agama merupakan satu kesatuan yang utuh.

Museum Asi Mbojo menyimpan barang-barang peninggalan raja-raja dan sultan-sultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola. Memasuki bagian gedung Museum Asi Mbojo, di lantai satu di bagian kanan, langsung tersaji koleksi akaian adat untuk perkawinan kalangan bangsawan dan masyarakat jelata berikut pelaminannya. Di sisi lainnya, ada sejumlah almari yang menyimpan koleksi alat pertanian, alat berburu, alat transportasi, alat yang digunakan dalam bidang perikanan, peralatan memasak, peralatan makan dan lain sebagainya