Uncategorized

Lubuk Larangan

Lubuk Larangan

Suaka Margasatwa Rimbang Baling merupakan kawasan hutan perbukitan yang menyimpan sejuta pesona membentang di Kabupaten Kuantan Singingi dan Kampar, Provinsi Riau. Di sana terdapat Sungai Subayang yang merupakan salah satu jalur transportasi bagi masyarakat yang berada di desa-desa yang terletak di pinggiran sungai Subayang. Selain mengaliri 13 desa, sungai ini juga berfungsi sebagai sumber kehidupan masyarakat dan sebagai habitat flora serta fauna.

Sungai Subayang menawarkan keindahan yang luar biasa. Jernihnya air yang meruak di sela-sela bebatuan, menambah daftar serpihan surga di bumi pertiwi. Hutan, Sungai dan budaya serta adat istiadat masyarakat yang menghuni tepiannya adalah peninggalan nenek moyang yang mengagumkan untuk dilihat dan dipelajari secara dekat.

baca juga : Goa Borallah

Ketergantungan masyarakat Subayang akan sungai Subayang membuat masyarakat senantiasa menjaga dan melestarikan sungai ini, salah satunya membentuk Lubuk Larangan. Lubuk larangan merupakan suatu kawasan di sepanjang sungai yang telah disepakati bersama sebagai kawasan terlarang untuk mengambil ikan baik dengan cara apapun apalagi dengan cara yang dapat merusak lingkungan sungai. Kesepakatan ini tertuang dalam aturan adat dan hukum adat yang berlaku untuk komunitas adat Rantau Kampar Kiri.

Kawasan ini memiliki kedalaman 3-4 meter yang merupakan tempat hidup dan berkembangbiaknya ikan-ikan besar (dalam bahasa lokal disebut bangkagh atau sarang ikan) seperti Ikan Tapa, Geso, Belida dan lainnya. masyarakat juga meyakini siapapun yang mengambil ikan di wilayah ini atau melanggar aturan yang ada, akan mendapatkan bencana. Kawasan yang menjadi lubuk larangan ditandai dengan tali yang melintang di atas Sungai. Ikan-ikan didalamnya juga unik, mereka bisa mengetahui batas lubuk larangan dan tidak akan keluar dari batas itu. Jika melewati batas, ikan-ikan itu boleh diambil oleh siapapun.

baca juga : Taman Nasional Batang Gadis

Lubuk larangan dibuka biasanya setahun sekali yang diawali dengan musyawarah antara Pemerintah Desa dan Ninik Mamak (tetua adat) setempat. Tiap desa yang berada di sepanjang Sungai Subayang tersebut memiliki satu hingga tiga lubuk larangan. Sebelumnya di desa bagian hilir (Gema) dan hulu (Desa Batu Sanggan, Gajah Bertalut) juga membuka lubuk larangan.

Sungai dan hutan berkaitan erat dan menjadi bagian penting bagi masyarakat di sekitar Sungai Subayang. Ketergantungan terhadap sungai sangat tinggi, karena sebagai sarana utama untuk transportasi menggunakan piyau atau perahu dari desa-desa di hulu menuju hilir maupun sebaliknya.