Uncategorized

Larung Sesaji

Larung Sesaji

Masyarakat Blitar di kawasan pantai selatan memiliki tradisi upacara adat Larung Sesaji atau Larungan. Ritual ini merupakan ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa rintangan di kemudian hari. Simbol rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk gunungan yang berisikan hasil bumi dan kepala hewan ternak, yang selanjutnya diarak dan dilarung ke tengah laut.

Salah satu Larung Sesaji ini adalah di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Konon tradisi ini berawal dari larung sesaji yang dilakukan oleh Atmaja atau Atmo Wijoyo salah satu prajurit dari Mataram, anak buah Pangeran Diponegoro. Atmaja melarikan diri ke Pantai Tambakrejo dan melakukan tasyakuran atau yang kemudian dikenal Larung Sesaji.

baca juga : Grojogan Coban Wilis

Versi lain mengaitkan dengan sosok Mbok Ratu Mas yang berdiam di laut selatan yang dalam kehidupan sehari-hari bersinggungan dengan warga Desa Tambakrejo. Oleh karena itu, warga Desa Tambakrejo merasa harus menaruh hormat kepada sosok yang memimpin keraton di alam gaib bawah laut. Kemungkinan Mbok Ratu Mas adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Meski demikian dalam Larung Sesaji ini juga terdapat penghormatan kepada Tuhan, alam dan sesama mahluk, sebagai  tindakan mulia bahwa manusia dalam kehidupan ini tidak sendirian, namun ada ketergantungan pada alam, mahluk lain dan Tuhan. Oleh karena itu penghormatan tersebut dimanifestasikan dalam larung sesaji setiap menjelang pergantian tahun Muharam atau tanggal 1 Suro.  Penyelenggaraannya dilakukan bergantian setahun sekali antara pantai Tambakrejo dan pantai Serang, desa Serang kecamatan Panggungrejo.

baca juga : Air Terjun Grenjeng

Semula  upacara ini berlangsung sederhana semenjak tahun 1838.  Sekalipun upacara ini ditujukan kepada yang gaib, secara struktur bisa disebut lentur.  Gagasan perubahan justru sering muncul dari pihak luar yang memiliki kepedulian terhadap pergelaran upacara larung sesaji. Misalnya, gagasan mengadakan perubahan secara kolektif upacara larung sesaji datang dari Kepala Desa pertama Desa Tambakrejo pada 1969, Soebadi.   Juga gagasan menambah dan membuat ukuran tumpeng menjadi besar oleh Rijanto, Bupati Blitar pada saat itu, dan menggemparkan acara ini agar dikenal oleh khalayak di luar daerah.

Namun yang tidak berubah antara lain persembahan sesajian berupa tumpeng emas, takir plonthang dan cok bakal. Tumpeng emas merupakan representasi paling penting atas doa keselamatan dan upaya untuk ngaweruhi keberadaan Mbok Ratu Mas dan memetri keselamatan dan kesejahteraan kepada Tuhan. Sedangkan kepala kambing kendit sudah diubah menjadi kepala sapi.