Uncategorized

Batu Hobon

Batu Hobon

Sebuah kisah misteri tentang kebera­daan sebuah batu besar berdiameter satu meter dengan tinggi sepinggang orang dewasa yang berada di kaki Gunung Pusuk Buhit, Kecamatan Sian­jurmula mula, Samosir. Namanya Batu Hobon, berada diketinggian 1.000 meter diatas permu­kaan laut dan saat ini telah menjadi objek wisata budaya yang terkemuka bagi semua orang. Tidak hanya orang Batak, tapi turis asing mancanegara juga sangat tertarik dengan keberadaan batu ini.

Batu yang terlihat seperti sebuah peti dan terlihat berlapis lapis sampai sekarang dipercaya sebagai tempat sakralnya orang Batak dan merupakan tempat penyimpanan harta Si Raja Batak dan harta anak-anaknya Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon berupa emas yang juga dipercaya sebesar kepala kuda. Selain emas sebesar kepala kuda, isi batu juga dipercaya terdapat benda-benda pusaka dan alat-alat musik. Diyakini pula, di dalam Batu Hobon ini tersimpan Lak-Lak (sejenis kitab) yang berisi ajaran dan nilai-nilai luhur serta perlengkapan perang yang terbuat dari emas. Memang sampai sekarang cerita kebenarannya belum bisa dibuktikan lewat data ataupun foto. Namun karena dipercaya berisi harta berupa emas, dalam beberapa kali kesempatan, batu itu pun ingin dibuka. Lewat keterangan beberapa orang tua dan masyarakat yang dihimpun di Sianjur Mulamula, usaha untuk mem­bukanya sudah dilakukan sebanyak tiga kali, namun setiap orang yang berusaha untuk membukanya selalu gagal hingga berujung kematian.

baca juga : Batu Parsidangan

Pertama kali terjadi pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang peja­bat Pemerintah Belanda dari Pangu­ruran, beru­saha untuk membuka Batu Ho­bon. Dengan menggunakan dinamit dan peralatan bom lainnya, serta didukung beberapa orang perso­nil, batu pun hendak diledakkan, namun saat mem­per­siapkan alat alatnya, tiba-tiba datanglah hujan yang sangat lebat disertai angin yang sangat kencang, serta petir dan guntur yang sambung menyambung. Tidak itu saja, munculnya secara tiba-tiba ular yang sangat besar dan pada saat itu juga ada berkas cahaya seperti tembakan sinar laser dari langit tepat ke atas Batu Hobon, hingga mem­buat pejabat Belanda itu tiba-tiba ping­san, sehingga harus ditandu ke Pangu­ruran, dan setelah sampai Pangu­ruran dia meninggal dunia.

Kemudian, usaha kedua terjadi pada masa pembe­rontakan PRRI, seorang tentara berusaha untuk membuka Batu Hobon ini, menembaki Batu Hobon itu dengan senapan, tetapi sampai habis persediaan pelurunya Batu Hobon itu tidak mengalami kerusakan apa-apa, bahkan si tentara itu menjadi gila dan dia menjadi ketakutan. Dia pun berjalan sambil berputar-putar, serta menem­baki sekelilingnya, walaupun peluru senapannya sudah ko­song, dan tidak berapa lama, si tentara itu pun meninggal dunia. Dan terakhir, pernah ada orang sakti atau dukun dari Barus, Tapanuli Tengah yang kabarnya sangat berambisi memi­liki harta pusaka Si Raja Batak. Karena si dukun ini juga sakti, sempat lapisan pertama Batu Hobon terbuka. Akan tetapi memasuki lapisan kedua, rombo­ngan dukun ini dike­jutkan dengan penampakan ular raksasa yang hendak me­nyerang mereka. Melihat ular raksasa hitam datang menyerang, rombongan dukun itupun lari terbirit birit dan gagal lah usaha mereka membuka batu itu. Dukun yang merupakan pimpinan rombo­ngan itu kabarnya meninggal dunia dan anggota rombongan banyak yang mendapat bala.

baca juga : Danau Aek Natonang

Lapisan pertama batu yang terbuka oleh rombongan dukun tadi dan dikha­watirkan akan mendatangkan berbagai bala dan peristiwa. Akhirnya, men­dorong rombongan murid Kristen dari Kota Tarutung datang bersama seorang pen­deta bermarga Lumban Tobing. Lewat doa yang dipanjatkan dan me­mohon restu kepada Tuhan dan kepada alam se­mesta, batu tersebut diangkat dan dipasang ketempat semu­la. Alhasil, karena memiliki kekuatan magis, Batu Hobon pun menjadi sangat sakral dan terjaga kemagisannya sam­pai sekarang. Angin disini pun sangat sejuk apalagi saat cuaca bersahat. Dan, satu lagi siapapun Anda, jika berkunjung ke tempat ini, berlakulah sopan. Jaga tata bahasa, semisal jangan berkata kotor dan jangan mengumpat. Jangan melu­dah dan selalu ucapkan horas-horas.