Berbagai tempat rekreasi,  Jelajah Wisata Indonesia,  Keliling Indonesia,  Tempat rekreasi terkenal,  Tempat Wisata Indonesia,  Tempat wisata paling bagus,  Wisata Keliling Indonesia,  Wisata Nusantara

Alas Burno Senduro Lumajang

Alas Burno Senduro Lumajang

Alas Burno Senduro Lumajang adalah salah satu gerbang masuk ke kawasan Bromo. Alas Burno atau Hutan Burno memiliki lintasan dalam hutan sepanjang kira-kira 15 kilometer. Perjalanan dalam kawasan ini benar-benar menembus hutan.

Bagi yang berkenan singgah dalam perjalnan menuju Bromo, Alas Burno Senduri Lumajang memberikan pemandangan pohon pinus yang rindang. Dengan segala kesejukannya dapat menjadi satu alternatif bagi yang hobi foto. Wisata alas burno menghadirkan berbagai obyek menarik.

Hutan pinus ini juga kerap menjadi lokasi pilihan bagi pasangan yang akan melakukan foro pra-nikah alias pre-wedding.Tidak hanya disuguhi pemandangan pohon pinus yang indah dan udara yang sejuk, pengunjung juga dapat berfoto ria di hutan pinus ini.

Didalam kawasan hutan ini juga masyarakat sekitar berkegiatan, tanpa merusak kelestarian hutan. Mereka menanam Pisang dan rumput gajah untuk pakan ternak kambing dan sapi perah. Semua keterlibatan bertanggung jawab dari penduduk sekitar hutan ini alah bsai menjaga kelestarian hutan, terutama dari bahaya kebakaran hutan.

baca juga : Tlatar Boyolali

Fasilitas Alas Burno Senduro Lumajang

Fasilitas wisata di kawasan alas burno bisa dianggap tidak ada. Karena kawasan ini memang bukan tujuan wisata utama. Namun di dekat Alas terdapat desa Burno, yang memiliki berbagai fasilitas seperti layaknya pemukiman pedesaan.

Perkebunan Pisang

Di bawah tajuk hutan penduduk sekitar kawasan hutan memproduksi beragam komoditas, diantaranya pisang emas kirana dan talas.

Rasa yang manis dan warnanya yang khas membuat pisang emas kirana sekarang menjadi primadona. Menurut data Dinas Pertanian Lumajang, produksi pisang emas kirana mencapai 325 ton per tahun.

Pisang emas kirana yang dipasok petani ke PT Segar Sewu Nusantara didistribusikan ke berbagai supermarket di Malang, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan diekspor untuk memenuhi pasar luar negeri seperti Malaysia, Jepang dan Hongkong.

Menurut cerita petani lokal yang mengelola, satu tandan harganya bisa sampai Rp 80-90 ribu. Satu tandan beratnya sekitar 7-8 kg. Agar bentuk fisiknya tetap baik, saat berbuah pisang dibungkus plastik.

Rata-rata Dua kali seminggu petani penggarap hutan kawasan Alas Burno Senduro Lumajang ini mampu mengirim 3,5 ton pisang ke distributor. Di Burno sendiri luas kebun pisang sekitar 67 hektar.

Talas Hutan

Selain pisang dan singkong, di kawasan pertanian garapan warga ini, tumbuh pula tanaman talas alias mbothe. Dulu, talas dianggap sebagai tanaman liar. Nyaris tak berharga, warga menyebut sebagai pakan babi hutan.

Dulu sekarung Rp 9 ribu sekarang bisa sampai Rp 200 ribu. Hal itu karena warga lokal ada yang menguasakan produksi Kripik berbahan dasar Talas. Harga talas sesuai perjanjian kontrak adalah Rp3 ribu per kg, namun harganya dapat menyesuaikan dengan harga pasar yang ada.

Dalam bisnis talas, usaha itu melibatkan sebanyak 60 warga setempat yang dipekerjakan untuk tenaga pengupas talas. Bisnis itu dimulai sejak 2006. Sekarang omzetnya fantastis, antara Rp1-3 milyar per bulan.

Pengusaha talas di sana, juga tengah mematangkan rencana membuka pabrik keripik talas di Lumajang. Alasannya membuka pabrik keripik lantaran bahan baku talas di Lumajang melimpah. Sumbernya berasal dari pinggir dan di bawah tajuk hutan.

Mereka berharap agar talas dapat naik kelas dan menjadi produk unggulan Kabupaten Lumajang.

baca juga : Wisata Karangasem

Kambing Ras Senduro

Potensi pakan ternak di bawah tegakan hutan yang berlimpah pun yang mendorong warga mengembangkan ternak kambing. Seperti yang dilakukan oleh M. Arifin yang beternak kambing ras senduro sejak tahun 2002.

Dengan keulatannya, dia sekarang punya 100 ekor kambing, dimana 40 ekor diantaranya anakan. Kambing ras senduro sebenarnya secara turun-temurun dipelihara warga. Diperkirakan ia keturunan kambing etawa yang dulu dibawa masuk saat zaman Belanda.

Kambing ini cukup produktif, sekali melahirkan bisa menghasilkan 1-2 anak. Ia bakal terus produktif menghasilkan susu sampai usia 10-11 tahun. Kambing senduro milik warga hutan ini pernah dinobatkan sebagai kambing terbesar dan terberat dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Batu, Jawa Timur 2018. Berat kambingnya sampai 149,8 kilogram. Saat itu kambingnya sempat ditawar Rp105 juta.

Ciri kambing senduro umumnya berciri tubuh besar dan berwarna putih. Saat kambing masuk usia produktif harga jualnya sampai Rp10-20 juta per ekornya.

Untuk susu kambing dia menjual langsung ke konsumen seharga Rp30 ribu per liter. Selain itu per minggu warga memasok 100 liter susu beku ke pabrik susu etawa di Yogyakarta. Susu ini lalu diolah menjadi susu bubuk.