Uncategorized

Air Terjun Linggahara

Air Terjun Linggahara

Gugusan lereng Bukit Barisan menjadi alternatif sebagai lokasi objek wisata bagi warga kota Rantauprapat dan di kabupaten Labuhanbatu pada umumnya. Tapi, seiring makin leluasanya pengelolaan kawasan hutan disana juga bakal berkonsekwensi logis dan berpotensi terjadinya pengalihan fungsi areal hutan. Konon lagi, pengelolaan hutan tersebut tanpa ijin resmi dari pihak terkait. Khususnya, Dinas Kehutanan Propsu. Sebagian warga menyebutnya Air Terjun Kembar, sebahagian lainnya menyebut dengan Air Terjun Baru. Namun, secara pasti sesuai dengan tulisan yang tertera di kertas sebagai karcis ketika memasuki komplek objek wisata air terjun di Lingkungan Makmur, Kelurahan Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan itu, nyata tertulis Taman Wisata Alam Air Terjun Linggahara.

Tak sukar menemukan lokasinya. Serta, hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 20-an menit dari pertigaan jalan By Pass Rantauprapat dengan jarak tempuh sekira delapan kilometer. Dengan kondisi jalanan yang belum tersentuh modernisasi berupa polesan aspal hotmix, jalanan disana hanya mendapat pengerasan ala kadarnya. Cukup diakui, objek wisata Air Terjun itu kini kian diminati. Tingkat kehadiran warga pencari keindahan alam terus meningkat. Panorama alam sekitar objek wisata itu memang kawasan yang juga masih mampu menyuguhkan suasana sejuk. Sebab, masih memiliki berbagai jenis tanaman hutan. Ditambah lagi, dibahu badan jalan masih kerap terlihat alur air yang mengalir jernih di anak sungai yang berbatuan.

baca juga : Danau Megoto

Menuju ke kawasan itu, pengunjung juga dipandu dengan arah petunjuk yang sengaja dipasang pihak pengelola kawasan wisata alam. Itu, sudah terlihat sejak memasuki pertigaan jalan by Pass Jalinsum H Adam Malik. Tapi, untuk dapat menikmati suasana alami disana bukan hal yang gratis. Setiap pengunjung yang datang dan sejak memasuki kawasan, tepat di pintu Gerbang lokasi wisata setiap orangnya mesti dipatok tiket masuk seharga Rp8000. Selain itu, untuk pengguna kenderaan mobil juga diharuskan membayar biaya parkir Rp4000 permobil. “Ini sudah ketentuan. Dan ini merupakan pajak Wisata yang juga disetor ke Pemerintah,” tegas seorang sekuriti ketika penulis  menyambangi  kawasan itu. Bahkan, dari informasi yang ada, harga tiket akan terjadi kenaikan jika pada masa-masa liburan.

Di kawasan itu, terdapat beberapa joglo-joglo yang disediakan pihak pengelola taman wisata. Di lereng Bukit Barisan, dari celah bebatuan yang ada, mengalir air terjun kembar dengan ketinggian mencapai 40 meter. Melengkapi suasana rehat bagi pengunjung yang ada juga dihadirkan satu lokasi tempat hiburan bagi pecinta musik lengkap dengan fasilitasnya dibawah kerindangan pepohonan hutan.

baca juga : Danau Pagaran Padang

Tepat dibawah air terjun pertama, curamnya alur air seolah tumpah yang memperindah suasana bersantai dengan iringai gemericik air. Selain itu, pengelola juga menyediakan kolam buatan khusus untuk orang dewasa jika ingin berenang. Sedangkan dibawah kucuran air terjun satunya lagi didapati beberapa bongkahan batu bukit berukuran besar sering dijadikan pengunjung sebagai tempat menggelar makanan dan minuman yang sengaja dibawa sebelumnya. Berkisar lima meter menuju air mengalir, kembali didapati kolam pemandian yang disediakan pengelola khusus untuk tingkat anak dibawah umur. Kepulan uap berasal dari air terjun yang hampir menutup lumut didinding bebatuan berwarna kehitam-hitaman juga menjadi pemandangan yang menyejukkan. Suara kicauan burung bersahutan menguatkan nuansa alam yang kental. Pondok-pondok yang berada diantara alur air mengalir dan juga dinding-dinding bebatuan tidak jarang terisi penuh oleh pasangan muda-mudi maupun keluarga yang berkunjung kesana. Tanaman berbagai jenis bunga diantara lokasi pemandian kini semakin tertata dan tumbuh subur. Jika tidak ingin bersantai diantara dua air terjun, pengunjung juga memiliki alternatif lainnya. Mengikuti hulu alur air yang berada diantara tebing bebatuan, ternyata juga menyuguhkan pemandangan dan alam yang tidak kalah menarik.